UNIIB JADI TUAN RUMAH DALAM SOSIALISASI MIGRASI AMAN DAN PENCEGAHAN TPPO BERSAMA MIGRANT CARE BANYUWANGI
BANYUWANGI – Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) menjadi tuan rumah pelaksanaan Serial Publik III: Sosialisasi Migrasi Aman untuk Mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang diselenggarakan oleh Migrant Care. Kegiatan ini berlangsung aktif pada rabu (19/11/25) bertempat di Auditorium KHR. As’ad Syamsul Arifin UNIIB. Dirancangnya sosiallisasi ini sebagai forum edukasi untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai prosedur migrasi yang aman, legal, dan berbasis perlindungan.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan pemerintah desa, lembaga layanan, organisasi masyarakat sipil, purna PMI yang tergabung dalam komunitas DESBUMI, serta mahasiswa UNIIB. Keterlibatan multipihak ini menunjukkan urgensi kolaborasi dalam memperkuat sistem pencegahan TPPO melalui penyadaran publik dan akses informasi yang tepat.

Dalam sambutannya, Rektor II UNIIB, Ibu Zidnyati, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan wawasan dan sikap kehati-hatian dalam isu migrasi. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan ruang bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang memadai sebagai bekal untuk memahami risiko, peluang, dan prosedur migrasi secara komprehensif.
Dalam sambutannya, ia menegaskan urgensi kegiatan ini bagi sivitas akademika.
“Forum ini memberikan kesempatan bagi kita semua untuk memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang migrasi yang aman. Ini bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi juga latihan untuk berpikir kritis dan mawas diri,” ujarnya dalam sambutan.

Kepala Lembaga Migrant Care, Siti Uut Rohimatin, juga memberikan catatan penting terkait keberlanjutan program ini.
“Sosialisasi seperti ini harus terus dilaksanakan di lingkungan akademik. Sosialisasi perlu dilakukan secara masif sebagai bagian dari pencegahan TPPO,” tegasnya.
Ia menambahkan rencana tindak lanjut (RTL) yang meliputi pembentukan Satgas TPPO Banyuwangi serta rencana MoU UNIIB dengan Migrant Care untuk mengintegrasikan isu TPPO dalam kuliah umum.
“UNIIB menunjukkan transformasi yang progresif, dan kami mengapresiasi keterlibatan kampus dalam kerja-kerja perlindungan migran,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat dapat mengakses informasi migrasi yang valid dan mutakhir melalui Sistem Komputerisasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI).
Akses ini dapat dimanfaatkan oleh calon pekerja migran untuk memastikan dokumen, prosedur, dan status keberangkatan berjalan sesuai regulasi.
Uut juga menambahkan bahwa penting bagi mahasiswa memahami hal ini agar dapat meningkatkan kewaspadaan dan menyebarkan informasi kepada masyarakat.
“Mahasiswa memiliki peran penting karena hidup di era digitalisasi. Kami diharapkan bisa menjadi kelompok yang mampu memilah informasi secara bijak dan menyebarkan pengetahuan yang benar,” pungkasnya saat diwawancarai.

Sebagai narasumber, Panji Tri Nugroho dari BP3MI sebagai perwakilan Kementrian KP2MI memaparkan mekanisme penempatan Pekerja Migran Indonesia, regulasi yang mengatur migrasi resmi, serta peluang kerja luar negeri yang dapat diakses secara prosedural. Materi tersebut memberikan perspektif praktis dan regulatif bagi peserta dalam memahami tata kelola migrasi yang aman.
Dari unsur mahasiswa, Vino Ferdiansyah yang kerap disapa Vino memberikan tanggapan positif atas penyelenggaraan kegiatan ini.
“Kegiatan ini sangat mendukung dan kami berterima kasih kepada Migrant Care. Topik TPPO sangat relevan dengan berbagai berita akhir-akhir ini. TPPO adalah isu serius yang bisa melibatkan siapa saja, termasuk mahasiswa,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, UNIIB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog akademis dan penguatan kapasitas publik. Forum ini diharapkan mampu memperluas pemahaman peserta mengenai migrasi aman serta memperkuat upaya pencegahan TPPO.
