Redefinisi Keberanian Sikap: Mengokohkan Keberpihakan Etis untuk Melawan Sikap Masa Bodoh
Dulu kata “berani” identik dengan toa, spanduk, dan barikade. Hari ini maknanya harus diperluas. Karena musuh terbesar kampus saat ini bukan lagi represi, tapi sikap masa bodoh. Dan melawan masa bodoh butuh jenis keberanian yang berbeda: keberanian untuk tidak menutup mata.
Kita sering lupa, menyandang status mahasiswa artinya menyandang tanggung jawab. Kita bukan cuma penuntut ilmu, tapi juga pewaris harapan. Ada beban moral yang ikut disematkan: berpikir kritis, bersuara, dan bergerak. Sayangnya, banyak dari kita yang memilih jalur paling aman. Masuk kelas, catat, ujian, lulus. Selesai.
Itulah wajah apatisme. Ia tidak berisik. Ia tidak kelihatan. Apatisme datang dalam bentuk “nggak mau ikut-ikut”, “urusan gue bukan itu”, “yang penting IPK aman.” Kita menganggap itu bijak. Padahal itu pelan-pelan membunuh nalar kolektif kita. Ketika ada kebijakan kampus yang merugikan tapi kita diam. Ketika teman diperlakukan tidak adil, tapi kita pura-pura nggak lihat. Ketika hoaks menyebar di grup angkatan, tapi kita cuma react emoji. Di titik itu kita sudah mengambil keputusan: memilih tidak berpihak.
Lalu apa lawannya? Etika keberpihakan.
Keberpihakan di sini bukan soal ikut kubu A atau kubu B. Bukan juga soal ikut demo biar kelihatan keren. Etika keberpihakan adalah komitmen sadar untuk selalu bertanya: “nilai apa yang sedang saya bela?” Dan jawabannya harus selalu kembali ke 3 hal: kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan.
Mahasiswa yang punya etika keberpihakan akan berani berdiri bersama dosen honorer yang gajinya telat. Akan berani menolak plagiarisme meski semua orang melakukannya. Akan berani bersuara saat organisasi kemahasiswaan mulai kotor oleh transaksional. Akan berani turun ke masyarakat bukan buat konten, tapi buat mengerti.
Redefinisi keberanian sikap hari ini adalah ini: berani tidak nyaman. Berani tidak populer karena menolak titipan proyek di BEM. Berani repot karena memilih baca referensi, daripada jiplak ChatGPT. Berani sepi karena memilih diskusi buku, daripada nongkrong gosip. Berani “dibenci”, karena menegur teman yang melakukan perundungan.
Semua itu terlihat kecil. Tapi justru dari hal kecil itulah apatisme dipatahkan. Karena apatisme tumbuh dari pembiaran-pembiaran kecil. Dari kata “ah udahlah.” Dari kalimat “bukan urusan gue.”
Kampus seharusnya jadi tempat menempa karakter, bukan pabrik ijazah. Jika seluruh mahasiswa memilih jadi penonton, maka siapa yang akan mengoreksi? Jika ruang diskusi mati, maka siapa yang akan menguji gagasan? Jika kita semua memilih aman, maka siapa yang akan menjaga agar kekuasaan tidak semena-mena?
Keberanian hari ini bukan soal siapa paling lantang. Tapi, siapa paling konsisten. Konsisten untuk berpihak pada yang benar, meski tidak menguntungkan. Konsisten untuk peduli, meski tidak ada SKKM. Konsisten untuk berpikir, meski algoritma menyuruh kita scroll terus.
Sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa baru, kita punya kesempatan emas untuk membangun fondasi ini dari awal. Jangan tunggu sampai semester 6 baru sadar bahwa 3 tahun kita habis hanya untuk mengejar nilai. Masuklah dengan kepala terbuka dan hati yang tidak tumpul.
Jadi, mari definisikan ulang.
Berani = Berani berpihak.
Berani = Berani peduli.
Berani = Berani berbeda ketika yang lain memilih diam. Selama masih ada satu orang di kampus yang menolak apatis, maka harapan belum padam. Dan orang itu, harusnya kita.
Oleh: Alvy Ainur Rohmah (Peserta OSCAR UNII Tahun 2026)
