PENGHUJUNG KEPEMIMPINAN, REKTOR HADIAHKAN BUKU SEJARAH UNIIB

BANYUWANGI – Nuansa hangat pasca Idul Fitri 1447 H, Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi kembali menggelar agenda tahunan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, halal bihalal kini berupaya melakukan kilas balik perjalanan kampus Islam tertua di ujung timur Pulau Jawa ini melalui bedah buku. Kegiatan bertajuk “Halal Bihalal dan Bedah Buku Sejarah Pendirian Kampus Ibrahimy” yang digelar di Auditorium KHR. As’ad Syamsul Arifin UNIIB pada Minggu pagi (5/4/26) ini dijadikan momentum untuk merawat ingat sekaligus recharging kemistri.

CERIA: Seluruh hadirin saat sesi foto.

Halal bihalal sebagaimana diketahui, merupakan salah satu budaya Indonesia. Bahkan Ketua Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Ibrahimy (YASMY), KH. Muwafiq Amir B.A. dalam sambutannya menuturkan bahwa secara terminologis, istilah halal bihalal ini tidak ada dalam bahasa arab. Kiai Muwafiq, demikian orang memanggil, menjelaskan bahwa kata halal pertama dan halal kedua mengandung arti yang sangat dalam.

“Tidak ada dalam Bahasa Arab. Tapi, ada ulama yang menafsirkan bahwa kata halal pertama mengandung arti meminta maaf. Dan kata halal kedua berarti memberi maaf. Ini penting untuk diketahui, mengingat dosa atau kesalahan kepada manusia lain diampuni dengan jalan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Selain itu, juga momentum untuk merawat koneksi dan kemistri,” terang Kiai Muwafiq.

BERTUTUR: KH. Muwafiq Amir, B.A. saat sambutan.

Berdasarkan simpul untuk saling memaafkan inilah, agenda ini menjadikan keluarga besar UNIIB semakin memiliki emosional yang erat. Tidak terkecuali para alumninya. Dan perkembangan kampus Islam pertama ujung timur Jawa ini, kata Kiai Muwafiq, tidak lepas dari peran-peran alumni dalam masyarakat.

“Ibrahimy ini besar karena peran alumninya di masyarakat, yang mana lulusan Ibrahimy itu masuk di berbagai lini strategis. Menjadi tokoh di instansi-instansi. Dari situlah Ibrahimy dapat dikenal luas” tambah Kiai Muwafiq.

Kiai Muwafiq juga memberikan kilas balik Ibrahimy secara historis. Dalam sambutannya, UKI (Universitas Kristen Indonesia) pada medio 1980-an akan didirikan di Genteng. Dari adanya informasi ini, kiai-kiai di Banyuwangi menginginkan agar segera didirikan kampus Islam. Bukan serta-merta sebagai respon impulsif dan sentimen, melainkan menyadari pentingnya pendidikan dalam Islam Banyuwangi, khususnya perguruan tinggi, semestinya memang harus diadakan. Dan Kiai Muwafiq menekankan bahwa Ibrahimy didirikan oleh orang-orang dari pesantren.

“Dan dari sini kita tahu bahwa Ibrahimy Genteng didirikan dan dirintis oleh kiai-kiai dari pesantren. Ibrahimy lahir dari pesantren,” jelas beliau.

Penekanan ini memberikan refleksi penting bagi para hadirin yang terdiri dari dosen, pegawai, alumni bahkan mahasiswa, bahwa nafas pesantren demikian kental di dalam pusaran aktivitas civitas akademika. Turut juga hadir, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd. yang kemudian memberikan testimoninya terhadap acara ini di hadapan para hadirin.

Mantan pendidik di Ibrahimy pada tahun 2000-an ini menuturkan, fondasi kerja-kerja institusi di Ibrahimy seharusnya didasarkan pada lima wasiat salah satu pendirinya, yakni KH. Imam Zarkasyi  Djunaidi. Dalam buku sejarah pendirian kampus Ibrahimyyang disusun oleh Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.H.I., Alfian memberikan masukan agar bab mengenai wasiat Kiai Zarkasyi kepada civitas akedemika diletakkan diawal, bukan di akhir.

“Saya ini termasuk beruntung, karena masuk Ibrahimy tahun 2000. Dari sini saya belajar dan masih teringat satu hal yang dikatakan kepada saya oleh KH. Ali Muchaidori, kata beliau, Pak Alfian yang Ikhlas ya. Sehingga, fondasi dalam mengabdikan diri di Ibrahimy ini memang harus berlandaskan lima wasiat Kiai Zarkasyi. Di mana Ikhlas adalah satu nilai yang harus dijaga. Dan dalam pertemuan ini, melihat senior-senior, saya merasa keikhlasan itu terus mengukuh dan menguat,” tutur Alfian.

SEBUAH MASUKAN: Dr. H. Alfian (Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi) saat memberi testimoni.

Yang menjadi menarik dari agenda ini–dari yang biasanya diisi ceramah–adalah launching sekaligus bedah buku  “Traces of An Old College The History of The Establishment of Islamic University of Ibrahimy Banyuwangi”. Rektor UNIIB, sekaligus penulis buku ini, Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.H.I. memberitahukan bahwa karya ini merupakan hadiah bagi UNIIB sebelum pada Oktober nantinya purna sebagai pimpinan.

“Di penghujung kepemimpinan kami, yang Insyaallah bulan Oktober nanti, kami menjadikan buku ini sebagai hadiah. Secara reflektif, buku ini dapat menjadi pengingat, khususnya bagi para dosen dan pegawai, agar terus melihat sejarah. Sebagaimana ungkapan al fadlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi. Walaupun masa kini semakin baik, tapi yang paling utama adalah yang dahulu. Para pendahulu dengan segenap sejarahnya,” tutur Rektor.

KILAS BALIK: Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.H.I. memberikan sambutannya.

Ke depan, kata Rektor, tantangan yang harus dihadapi Ibrahimy semakin pelik. Terutama dalam hal penjaringan mahasiswa baru.

“Dengan momentum halal bihalal dan bedah buku ini, mari kita bersama menghadapi tantangan Ibrahimy ke depan. Kompetitor dari dalam maupun luar Banyuwangi semakin bertambah. Sehingga, dengan kebersamaan dan kesadaran  kolektif, kita sama-sama membesarkan  Ibrahimy,” pungkasnya.

Selepas seremonial, bedah buku dan diskusi yang di-moderatori oleh Dr. H. Kholilur Rahman, M.Pd.I. dilangsungkan. Sesi diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Masukan-masukan dari hadirin untuk buku baru ini menjadi sebuah bahan, yang tidak sekadar untuk merevisi dan lebih baik, tetapi juga agar kontennya lebih komprehensif.

MUNAJAT: KH. Lukmanul Hakim memimpin doa.

Di akhir sesi, putra Kiai Zarkasyi, yakni KH. Lukmanul Hakim memimpin doa, sebagai tanda akhir kegiatan, lantas dilanjutkan dengan bersalam-salaman.(*)

Kembali ke Atas