ALUMNI UNIIB LANJUTKAN STUDI DOKTORAL DI UIN KHAS
JEMBER – Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) membuktikan kualitas lulusannya dengan langkah yang membanggakan. Dua alumni UNIIB Adam Mustakim, M.Pd. dan Muhammad Iqbal, M.Pd., kini resmi melanjutkan studinya dalam program doktoral (S3) di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Sabtu pagi, (13/9/25), keduanya mengikuti kegiatan Orientasi dan Matrikulasi Mahasiswa Baru Pascasarjana di Gedung GKT, Jl. Mataram No. 1, Mangli, Kabupaten Jember.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan orientasi akademik yang berlangsung hingga pukul 12.30 WIB, kemudian dilanjutkan matrikulasi hingga pukul 14.30 WIB. Peserta terdiri dari seluruh mahasiswa baru program Pascasarjana S2 dan S3. Orientasi dan matrikulasi bertujuan memperkenalkan sistem akademik, kelembagaan, serta memberikan pembekalan teknis terkait perkuliahan, penelitian, dan etika akademik.

Adam Mustakim, yang lulus dari program S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) UNIIB tahun 2023, menapaki jenjang doktor dengan konsentrasi pengembangan strategi pengajaran. Baginya, melanjutkan studi bukan semata pencapaian pribadi, tetapi merupakan tanggung jawab intelektual untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Ia berharap dapat memberi kontribusi nyata dalam bidang pembelajaran PAI.
“Melalui program S3 ini, saya berharap dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), serta meningkatkan kualitas pengajaran dan pengabdian di bidang ini,” ujar Adam Mustakim, alumni UNIIB yang kini menempuh studi doktoral di UIN KHAS Jember.

Sementara itu, Muhammad Iqbal, alumni S2 UNIIB lulusan tahun 2024 yang kini juga melanjutkan studi S3 di program yang sama, menegaskan pentingnya pendidik untuk terus bergerak seiring perkembangan zaman. Menurutnya, dunia pendidikan saat ini telah memasuki era Society 5.0 yang menuntut inovasi dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
“Sebagai pendidik, kita tidak boleh berhenti belajar. Perubahan dari Revolusi Industri 4.0 ke Society 5.0 menuntut kesiapan dan adaptasi agar tidak tertinggal,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap almamater dan berharap UNIIB segera membuka program doktoral sendiri agar lebih banyak alumni bisa mengembangkan diri tanpa harus berpindah kampus yang telah membentuk mereka.
Muhammad Iqbal menekankan bahwa jenjang S1 dan S2 tidak cukup untuk menjawab tantangan riset di Indonesia yang masih kekurangan peneliti.
“Lulusan UNIIB bisa bersaing dan berkualitas. Kita perlu terus mendorong diri untuk menulis dan melakukan penelitian demi kemajuan pendidikan nasional,” pesannya dengan penuh keyakinan.
Bagi mereka, perjalanan menempuh studi doktor bukan hanya soal gelar, tetapi juga komitmen untuk terus belajar, bermimpi, dan berkontribusi. Pesan terakhir yang mereka titipkan kepada mahasiswa UNIIB adalah untuk tidak berhenti bermimpi dan terus menggali ilmu sebagai investasi jangka panjang yang kelak membentuk peradaban.
Sumber: HUMAS UNIIB.
