UNIIB JADI AJANG KOLABORASI BUDAYAWAN LOKAL DAN TOKOH NASIONAL

BANYUWANGI — Kolaborasi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) melahirkan sebuah momentum intelektual dan kultural yang penuh makna. Bertempat di Aula KHR. As’ad Syamsul Arifin pada Jum’at (23/5/25) pukul 13.00. Universitas Islam Ibrahimy menyambut hangat peserta kunjungan UNJ yang terdiri dari mahasiswa beserta Dr. Sari Narulita, LC., M.SI selaku Kaprodi PAI FISH UNJ dan Khairil Ikhsan Siregar, LC, MA selaku Pembina Mahasiswa dalam gelaran Dialog Nasional bertema “Tantangan dan Peluang Pengelolaan Institusi Pendidikan Islam di Banyuwangi dalam Menghadapi Modernisasi” Bersama 104 mahasiswa UNJ dan 150 mahasiswa UNIIB sebagai peserta dalam acara tersebut.

Acara ini menghadirkan perpaduan yang unik antara akademisi, seniman tradisi, dan praktisi budaya lokal. Para peserta tidak hanya diajak mendalami isu-isu pengelolaan pendidikan Islam, tetapi juga merasakan denyut nadi kearifan lokal yang hidup di Banyuwangi melalui performa dan diskusi bersama para maestro budaya.

Sambutan: Zidniyati, M.Pd., Wakil Rektor II UNIIB menyampaikan sambutannya pada, Jum’at (23/5/25).

Dalam sambutannya, Wakil Rektor II UNIIB, Ibu Zidniyati, M.Pd., menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas kunjungan dari UNJ. Dengan nada penuh kehangatan, beliau menyampaikan:

“Kami merasa terhormat atas kedatangan Universitas Negeri Jakarta, kepada Bapak/Ibu dosen serta 104 mahasiswa yang datang ke Banyuwangi. Kami pastikan, atas kedatangannya yang pertama kali ini akan langsung jatuh cinta dengan Banyuwangi” Ujarnya dengan sapaan hangat.

Ia melanjutkan dengan menekankan pentingnya akademisi dengan mengenal dan menjaga kebudayaan lokal dalam kerangka akademik:

“Kami mencoba menghadirkan dan memperkenalkan Banyuwangi seperti apa, agar nanti membuka khazanah kita sebagai akademisi dan mampu menjaga kearifan lokal dari sisi akademis. Kami berharap akan ada kerja sama yang berkelanjutan antara UNJ dan UNIIB untuk mengkaji dan meneliti seperti apa tatanan dan pengelolaan institusi pendidikan Islam di Banyuwangi dalam menghadapi modernisasi” Tukasnya.

Menanggapi: Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si., Kaprodi PAI FISH UNJ dalam sambutannya mengaku terkesan pada UNIIB.

Sambutan dari pihak UNJ disampaikan oleh Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si., Kaprodi PAI FISH UNJ sekaligus Ketua Umum APPKI, yang mengaku terkesan dengan cara UNIIB menghadirkan kearifan lokal sebagai elemen utama dalam pendidikan:

“Saya takjub karena pihak UNIIB mendatangkan banyak seniman budaya lokal yang mengingatkan kita bahwa pengajaran nilai tidak hanya secara kognitif, melainkan juga nilai-nilai budaya lokal” Tuturnya dalam sambutan.

Hal senada disampaikan oleh mahasiswa UNJ, Muhammad Hanif Fadhillah selaku Koordinator Lapangan KKL, yang menyoroti potensi Banyuwangi sebagai wilayah studi yang kaya secara sosiologis dan kultural:

“Kita bisa melihat Banyuwangi dari banyak segi, yakni sosiologi pendidikan dan budayanya, yang mana mereka masih banyak memiliki madrasah dan juga kesenian yang masih kental rasanya” Jelasnya menanggapi keterangan.

Dialog nasional ini terasa istimewa dengan hadirnya tokoh-tokoh budaya Banyuwangi seperti Temu Misti (maestro Gandrung), Aziz Marzuki (praktisi Pencak Sumping), Adi Purwadi (tokoh Mocoan Lontar Yusuf), dan Hari Purnomo (budayawan selaku dosen UNIIB). Diskusi dimoderatori oleh Atho’illah Aly Najaudin, seorang antropolog muda serta dosen UNIIB.

Salah satu sesi yang paling mengesankan adalah penampilan Adi Purwadi, yang membacakan Lontar Yusuf dalam bahasa Kawi. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan kekayaan sastra Islam kuno, tapi juga menyampaikan spiritualitas melalui estetika lokal:

“Korelasi kesenian dan pendidikan agama Islam ternyata sangat kuat. Bacaan Lontar Yusuf itu adalah surat Yusuf yang dibacakan dalam bahasa Kawi, bahasa yang sering dipakai orang-orang zaman dulu”

Dari sisi seni bela diri, Aziz Marzuki kerap disapa Mas Mamar, pelatih Pencak Sumping, memberikan wawasan menarik tentang makna setiap gerakan pencak:

“Setiap gerakan jurus dalam pencak sumping memiliki makna. Salah satunya adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi medium dzikir” Ujar mas mamar menjelaskan dengan gaya khasnya.

Acara ini juga mendapatkan apresiasi dari ketua pelaksana dari UNJ, Muhammad Abdul Khafi selaku Ketua Pelaksana KKL Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta, yang menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari UNIIB:

“Kami merasa berkesan saat datang di Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi yang menyambut kedatangan kami dengan sangat hangat. Terima kasih juga kepada DEMA UNIIB. Kami memohon maaf jika ada hal yang kurang baik dari kami. Semoga ini menjadi awal sinergi kita untuk membangun asa dalam acara-acara selanjutnya” Harapannya sebagai Kesan untuk UNIIB.

Dari pihak UNIIB, ketua pelaksana Muhammad Rozak menyampaikan kegiatan ini turut menekankan bahwa tema dialog ini relevan bagi mahasiswa yang suatu hari akan menjadi pengelola lembaga:

“Dalam tema hari ini tentang tantangan dan peluang, kita diajak berpikir jauh ke depan. Jika kelak kita memiliki institusi sendiri, bagaimana cara mengelolanya? Maka kita belajar dari sini” Ujar Rozak menjelaskan.

Presiden Mahasiswa juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta bahwa meski sempat diguyur hujan, acara berlangsung lancar. Seperti disampaikan oleh Aang Kunaifi:

“Alhamdulillah, peserta aktif dan datang tepat waktu. Walaupun tadi sempat hujan, Alhamdulillah acara berjalan lancar. Acara ini sangat wah dengan menghadirkan maestro Banyuwangi. Kami berharap budaya Banyuwangi akan terus dilestarikan, tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tapi juga dalam ranah akademisi.” Tukasnya dengan bangga.

Dialog Nasional ini menjadi bukti bahwa modernisasi dan tradisi tidak perlu saling meniadakan. Justru ketika digali dan dikaji bersama, keduanya dapat bersinergi membentuk model pendidikan Islam yang kontekstual, berakar kuat, dan berpandangan luas. Dari Banyuwangi, lahir harapan baru: bahwa antara ilmu, budaya, dan iman akan selalu ada ruang perjumpaan yang memerdekakan.

Sumber: HUMAS UNIIB.

Kembali ke Atas